Tampilkan postingan dengan label Info Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Maret 2008

Cara Pencegahan bakteri sakazakii

Health Professionals Letter on Enterobacter sakazakii Infections
Associated With Use of Powdered (Dry) Infant Formulas
in Neonatal Intensive Care Units

Revisions: This letter revises the Dear Health Professional letter of 11 April 2002 with elimination of the recommendation to use boiling water for reconstitution of powdered infant formula. The reasons for this revision include potential for: 1) loss of heat sensitive nutrients, 2) changes in physical characteristics of some formulas, 3) inability to assure adequate destruction of E. sakazakii, 4) injury to hospital staff preparing formula. A statement has also been added in recognition of differences in infant formula preparation among hospital facilities. Detailed guidelines for preparation of infant formula are available on the web site of the American Dietetic Association at http://www.eatright.org/Public/NutritionInformation/92_formulaguide.cfm.

 
Dear Health Care Professional:
The U.S. Food and Drug Administration (FDA) is writing to inform you about a growing body of information pertaining to Enterobacter sakazakii infections in neonates fed milk-based powdered infant formulas. Clusters of E. sakazakii infections have been reported in a variety of locations over the past several years among infants fed milk-based powdered infant formula products from various manufacturers. One study tested milk-based powdered infant formula products obtained from a number of different countries and found that E. sakazakii could be recovered from 20 (14%) of 141 samples (1).
Enterobacter sakazakii is a gram-negative rod-shaped bacterium within the family Enterobacteriaceae. The organism was called "yellow-pigmented Enterobacter cloacae" until 1980 when it was renamed Enterobacter sakazakii (2). The majority of cases of E. sakazakii infection reported in the peer-reviewed literature have described neonates with sepsis, meningitis, or necrotizing enterocolitis (3-5) as a consequence of the infection, and the case-fatality rate among infected neonates has been reported to be as high as 33%. The pathogen is also a rare cause of bacteremia and osteomyelitis in adults (2).
The literature suggests that premature infants and those with underlying medical conditions may be at highest risk for developing E. sakazakii infection. Several outbreaks have occurred in neonatal intensive care units worldwide. (See, for example, van Acker et al.(3).) However, an apparently healthy full term newborn infant in Iceland also became ill prior to hospital discharge and suffered permanent neurological sequelae (4). Although the reservoir of the organism is unknown, a growing number of outbreaks of infection among neonates has provided compelling evidence that milk-based powdered infant formulas have served as the source of infection (3-5). Significantly, the results of one investigation (the "Belgium outbreak" investigation (3)) suggest that even low levels of E. sakazakii in milk-based powdered infant formula (i.e., levels that are within what a 1994 Codex Alimentarius document (6) provides as a currently accepted limit for the presence of coliforms in milk-based powdered infant formula) can lead to development of infection.
The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) has communicated information to FDA about a fatal infection due to E. sakazakii meningitis in a neonatal intensive care unit in the United States. In CDC's subsequent investigation, a cluster of neonates with E. sakazakii infection or colonization were identified in association with a powdered infant formula containing these bacteria. CDC will discuss details of its investigation in an upcoming edition of the Morbidity and Mortality Weekly Report (MMWR).
As background information for health professionals, FDA wants to point out that powdered infant formulas are not commercially sterile products. Powdered milk-based infant formulas are heat-treated during processing, but unlike liquid formula products they are not subjected to high temperatures for sufficient time to make the final packaged product commercially sterile. FDA has noted that infant formulas nutritionally designed for consumption by premature or low birth weight infants are available only in commercially sterile liquid form. However, so-called "transition" infant formulas that are generally used for premature or low birth weight infants after hospital discharge are available in both non-commercially sterile powder form and commercially sterile liquid form. Some other specialty infant formulas are only available in powder form.
The FDA has become increasingly aware that a substantial percentage of premature neonates in neonatal intensive care units are being fed non-commercially sterile dry infant formula. In light of the epidemiological findings and the fact that powdered infant formulas are not commercially sterile products, FDA recommends that powdered infant formulas not be used in neonatal intensive care settings unless there is no alternative available. If the only option available to address the nutritional needs of a particular infant is a powdered formula, risks of infection can be reduced by:
  • [* section removed]
  • Preparing only a small amount of reconstituted formula for each feeding to reduce the quantity and time that formula is held at room temperature for consumption; Recognizing differences in infant formula preparation among hospitals, individual facilities should identify and follow procedures appropriate for that institution to minimize microbial growth in infant formulas;
  • Minimizing the holding time, whether at room temperature or while under refrigeration, before a reconstituted formula is fed; and
  • Minimizing the "hang-time" (i.e., the amount of time a formula is at room temperature in the feeding bag and accompanying lines during enteral tube feeding), with no "hang-time" exceeding 4 hours. Longer times should be avoided because of the potential for significant microbial growth in reconstituted infant formula.
 
 
Christine J. Taylor, Ph.D.

Baca Selengkapnya......

Artikel Medicastore : Enterobacter sakazakii, Bakteri Pencemar Susu

Enterobacter sakazakii, Bakteri Pencemar Susu

Dr. Widodo Judarwanto, SpA
RS Bunda Jakarta & Picky Eaters Clinic


www.medicastore.com : Apotik online dan media informasi obat - penyakit

Penemuan para peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) mengenai adanya Enterobacter sakazakii (E. sakazakii) dalam susu formula anak-anak dan bubur bayi, cukup menghebohkan masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 74 sampel susu formula, 13,5 persen di antaranya mengandung bakteri berbahaya tersebut. Benarkah temuan yang dilakukan peneliti IPB tersebut? Kalau benar, berbahayakah E. sakazakii tersebut pada bayi atau anak? Bagaimana hal itu bisa terjadi? Gejala keracunan yang ditimbulkan oleh susu formula bayi tidak disebabkan oleh komponen biokimia atau bahan yang terkandung di dalamnya. Manusia dapat mengalami gejala keracunan karena susu tersebut telah terkontaminasi oleh bakteri. Susu dapat menjadi media pertumbuhan yang baik bagi bakteri, karena di dalamnya terdapat komponen biokimia yang juga diperlukan oleh bakteri untuk tumbuh dan berkembang. Selain E. sakazakii, bakteri lain yang sering mengkontaminasi susu formula adalah Clostridium botulinu, Citrobacter freundii, Leuconostoc mesenteroides, Escherichia coli, Salmonella agona, Salmonella anatum, Salmonella bredeney, Salmonella ealing, Salmonella Virchow, Serratia marcescens, Salmonella isangi dan berbagai jenis salmonella lainnya. Enterobacter sakazakii E. sakazakii pertama kali ditemukan pada tahun 1958 pada 78 kasus bayi dengan infeksi meningitis. Sejauh ini juga dilaporkan beberapa kasus yang serupa di beberapa negara. Meskipun bakteri ini dapat menginfeksi pada segala usia tetapi resiko terbesar terkena adalah usia bayi. Peningkatan kasus yang besar di laporkan terjadi di bagian Neonatal Intensive Care Units (NICUs) beberapa rumah sakit di Inggris, Belanda, Amerika dan Kanada. Di Amerika Serikat angka kejadian infeksi E. sakazakii yang pernah dilaporkan adalah 1 per 100.000 bayi. Terjadi peningkatan angka kejadian menjadi 9,4 per 100.000 pada bayi dengan berat lahir sangat rendah (<1,5 kg). Sebenarnya temuan peneliti IPB tersebut mungkin tidak terlalu mengejutkan karena dalam sebuah penelitian prevalensi kontaminasi di sebuah negara juga didapatkan dari 141 susu bubuk formula didapatkan 20 kultur positif E. sakazakii. E. sakazakii adalah suatu kuman jenis gram negatif dari family Enterobacteriaceae. Organisma ini dikenal sebagai "yellow pigmented Enterobacter cloacae". Pada tahun 1980, bakteri ini diperkenalkan sebagai bakteri jenis yang baru berdasarkan pada perbedaan analisa hibridasi DNA, reaksi biokimia dan uji kepekaan terhadap antibiotika. Disebutkan dengan hibridasi DNA menunjukkan E. sakazakii 53–54% dikaitkan dengan 2 spesies yang berbeda genus yaitu Enterobacter dan Citrobacter. Pada penelitian tahun 2007, beberapa peneliti mengklarifikasi kriteria taksonomi dengan menggunakan cara lebih canggih yaitu dengan f- AFLP, automated ribotyping, full-length 16S rRNA gene sequencing dan DNA-DNA hybridization. Hasil yang didapatkan adalah klasifikasi alternatif dengan temuan genus baru yaitu Cronobacter yang terdiri dari 5 spesies. Hingga saat ini tidak banyak diketahui tentang virulensi dan daya patogenitas bakteri berbahaya ini. Bahan enterotoksin diproduksi oleh beberapa jenis strains kuman. Dengan menggunakan kultur jaringan diketahui efek enterotoksin dan beberapa strain tersebut. Didapatkan 2 jenis strain bakteri yang berpotensi sebagai penyebab kematian, sedangkan beberapa strain lainnya non-patogenik atau tidak berbahaya. Hal inilah yang mungkin menjelaskan kenapa sudah ditemukan demikian banyak susu terkontaminasi tetapi belum banyak dilaporkan terjadi korban terinfeksi bakteri tersebut. Meskipun infeksi karena bakteri ini sangat jarang, tetapi dapat mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya sampai dapat mengancam jiwa, di antaranya adalah neonatal meningitis (infeksi selaput otak pada bayi), hidrosefalus (kepala besar karena cairan otak berlebihan), sepsis (infeksi berat), dan necrotizing enterocolitis (kerusakan berat saluran cerna). Sedangkan pada beberapa kasus dilaporkan terjadi infeksi saluran kencing. Secara umum, tingkat kefatalan kasus (case-fatality rate) atau resiko untuk dapat mengancam jiwa berkisar antara 40-80% pada bayi baru lahir yang mendapat diagnosis infeksi berat karena penyakit ini. Infeksi otak yang disebabkan karena E. sakazakii dapat mengakibatkan infark atau abses otak (kerusakan otak) dengan bentukan kista, gangguan persarafan yang berat dan gejala sisa gangguan perkembangan. Gejala yang dapat terjadi pada bayi atau anak di antaranya adalah diare, kembung, muntah, demam tinggi, bayi tampak kuning, kesadaran menurun (malas minum, tidak menangis), mendadak biru, sesak hingga kejang. Bayi prematur, berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) dan penderita dengan gangguan kekebalan tubuh adalah individu yang paling beresiko untuk mengalami infeksi ini. Meskipun juga jarang, bakteri patogen ini dapat mengakibatkan bakterimeia dan osteomielitis (infeksi tulang) pada penderita dewasa. Pada penelitian terakhir didapatkan kemampuan 12 jenis strain E. sakazakii untuk bertahan hidup pada suhu 58 ° C dalam proses pemanasan rehidrasi susu formula. Proses Pencemaran Terjadinya kontaminasi bakteri dapat dimulai ketika susu diperah dari puting sapi. Lubang puting susu memiliki diameter kecil yang memungkinkan bakteri tumbuh di sekitarnya. Bakteri ini ikut terbawa dengan susu ketika diperah. Meskipun demikian, aplikasi teknologi dapat mengurangi tingkat pencemaran pada tahap ini dengan penggunaan mesin pemerah susu (milking machine), sehingga susu yang keluar dari puting tidak mengalami kontak dengan udara. Pencemaran susu oleh mikroorganisme lebih lanjut dapat terjadi selama pemerahan (milking), penanganan (handling), penyimpanan (storage), dan aktivitas pra-pengolahan (pre-processing) lainnya. Mata rantai produksi susu memerlukan proses yang steril dari hulu hingga hilir, sehingga bakteri tidak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dalam susu. Peralatan pemerahan yang tidak steril dan tempat penyimpanan yang tidak bersih dapat menyebabkan tercemarnya susu oleh bakteri. Susu memerlukan penyimpanan dalam temperatur rendah agar tidak terjadi kontaminasi bakteri. Udara yang terdapat dalam lingkungan di sekitar tempat pengolahan merupakan media yang dapat membawa bakteri untuk mencemari susu. Proses pengolahan susu sangat dianjurkan untuk dilakukan di dalam ruangan tertutup. Manusia yang berada dalam proses pemerahan dan pengolahan susu dapat menjadi penyebab timbulnya bakteri dalam susu. Tangan dan anggota tubuh lainnya harus steril ketika memerah dan mengolah susu. Bahkan, hembusan napas manusia ketika proses pemerahan dan pengolahan susu dapat menjadi sumber timbulnya bakteri. Sapi perah dan peternak yang berada dalam sebuah peternakan harus dalam kondisi sehat dan bersih agar tidak mencemari susu. Proses produksi susu di tingkat peternakan memerlukan penerapan good farming practice seperti yang telah diterapkan di negara-negara maju. Antisipasi Dari berbagai penelitian dan pengalaman di beberapa Negara tersebut sebenarnya WHO (World Health Organization), USFDA (United States Food and Drug Administration) dan beberapa negara maju lainnya telah menetapkan bahwa susu bubuk formula bayi bukanlah produk komersial yang steril. Sedangkan susu formula cair yang siap saji, dianggap sebagai produk komersial steril karena dengan proses pemanasan yang cukup. Sehingga di bagian perawatan bayi NICU, USFDA menggunakan perubahan rekomendasi dengan pemberian susu bayi formula cair siap saji untuk penderita bayi prematur yang rentan terjadi infeksi. Sayangnya di Indonesia produk susu tersebut belum banyak dan relatif mahal harganya. Rekomendasi lain yang harus diperhatikan untuk mengurangi resiko infeksi tersebut adalah cara penyajian yang baik dan benar. Di antaranya adalah menyajikan hanya dalam jumlah sedikit atau secukupnya untuk setip kali minum untuk mengurangi kuantitas dan waktu susu formula terkontaminasi dengan udara kamar. Meminimalkan "hang time" atau waktu antara kontak susu dengan udara kamar hingga saat pemberian. Waktu yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 4 jam. Semakin lama waktu tersebut akan meningkatkan resiko pertumbuhan mikroba dalam susu formula tersebut. Hal lain yang penting adalah memperhatikan dengan baik dan benar cara penyajian susu formula bagi bayi, sesuai instruksi dalam kaleng atau petunjuk umum. Peningkatan pengetahuan orangtua, perawat bayi dan praktisi klinis lainnya tentang prosedur persiapan dan pemberian susu formula yang baik dan benar harus terus dilakukan. Terlepas benar tidaknya akurasi temuan tersebut sebaiknya pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan harus bertindak cepat dan tepat sebelum terjadi kegelisahan dan korban yang memakan jiwa. Sedangkan orangtua tetap waspada dan tidak perlu khawatir berlebihan ternyata temuan tersebut juga pernah dilaporkan oleh USFDA tetapi tidak terjadi kasus luar biasa Karena mungkin sebagian besar adalah kuman non-patogen atau yang tidak berbahaya. Tetapi apapun juga, jangan sampai terjadi banyak anak Indonesia terkorbankan hanya karena keterlambatan mengantisipasi keadaan.

Kontaminan pada susu formula yang menyebabkan infeksi

Kontaminan
Angka Kejadian
Bakteri
Clostridium botulinum satu infeksi? (UK, 2001)
Enterobacter sakazakii beberapa (di berbagai negara)
Salmonella agona satu (France, 2005)
Salmonella anatum satu (UK/Europe, 1996)
Salmonella bredeney dua (Australia, 1977; France/UK, 1988)
Salmonella ealing satu (UK, 1985)
Salmonella london satu (Korea, 2000)
Salmonella tennessee satu (USA/Canada, 1993)
Salmonella virchow satu (Spain, 1994)

Kontaminan pada susu formula yang menyebabkan infeksi di rumah sakit

Kontaminan
Angka Kejadian
Citrobacter reundii
satu
Enterobacter sakazakii dan
Leuconostoc mesenteroides
satu
Enterobacter sakazakii
beberapa
Escherichia coli
satu
Salmonella isangi
satu
Salmonella saintpaul
satu
Serratia marcescens
satu
Daftar Pustaka
  • Lai KK. Enterobacter sakazakii infections among neonates, infants, children, and adults. Medicine 2001;80:113-22.
  • van Acker et al. Outbreak of necrotizing enterocolitis associated with Enterobacter sakazakii in powdered milk formula. J Clin Microbiol 2001;39:293-97
  • Biering G et al. Three cases of neonatal meningitis caused by Enterobacter sakazakii in powdered milk. J Clin Microbiol. 1989 Sep;27(9):2054-6.
  • Simmons et al. Enterobacter sakazakii infections in neonates associated with intrinsic contamination of a powdered infant formula. Infect Control Hosp Epidemiol 1989;10:398-401.
  • Food and Agriculture Organization. 1994 Codex Alimentarius: code of hygienic practice for foods for infants and children. CAC/RCP 21-1979. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Rome, Italy.
  • "Health Professionals Letter on Enterobacter sakazakii Infections Associated With use of Powdered (Dry) Infant Formulas in Neonatal Intensive Care Units", U. S. Department of Health and Human Services, U. S. Food and Drug Administration, April 11, 2002; Revised October 10, 2002.
  • "Invasive Enterobacter sakazakii Disease in Infants", Emerging Infectious Diseases, Volume 12, Number 8–August 2006.
  • "Safe Preparation, Storage and Handling of Powdered Infant Formula Guidelines" (2007), World Health Organization, in collaboration with Food and Agriculture Organization of the United Nations.
  • "Enterobacter sakazakii and other microorganisms in powdered infant formula" Microbiological Risk Assessment Series 6, World Health Organization (2004).
  • "Enterobacter sakazakii Infections Associated With the Use of Powdered Infant Formula—Tennessee, 2001", JAMA. 2002; 287:2204-2205, Vol. 287 No. 17, May 1, 2002.
  • "Enterobacter sakazakii and Salmonella in powdered infant formula: Meeting report, MRA Series 10", Microbiological Risk Assessment Series 10, World Health Organization (2006).
  • Farmer JJ III, Asbury MA, Hickman FW, Brenner DJ, the Enterobacteriaceae Study Group (USA) (1980). " Enterobacter sakazakii : a new species of "Enterobacteriaceae" isolated from clinical specimens". Int J Syst Bacteriol 30: 569–84.
  • "Enterobacter sakazakii infections associated with the use of powdered infant formula--Tennessee, 2001". MMWR Morb Mortal Wkly Rep 51 (14): 297–300.
  • Lai KK (2001). " Enterobacter sakazakii infections among neonates, infants, children, and adults. Case reports and a review of the literature". Medicine (Baltimore) 80 (2): 113–22.
  • Bowen AB, Braden CR (2006). "Invasive Enterobacter sakazakii disease in infants". Emerging Infect Dis 12 (8): 1185–9.
  • Iversen C, Lehner A, Mullane N, et al (2007). "The taxonomy of Enterobacter sakazakii : proposal of a new genus Cronobacter gen. nov. and descriptions of Cronobacter sakazakii comb. nov. Cronobacter sakazakii subsp. sakazakii , comb. nov., Cronobacter sakazakii subsp. malonaticus subsp. nov., Cronobacter turicensis sp. nov., Cronobacter muytjensii sp. nov., Cronobacter dublinensis sp. nov. and Cronobacter genomospecies 1". BMC Evol Biol 7: 64.
  • Nazarowec-White M, Farber JM. Enterobacter sakazakii: a review. Int J Food Microbiol 1997;34:103--13.
  • Muytjens HL, Roelofs-Willemse H, Jaspar G. Quality of powdered substitutes for breast milk with regard to members of the family Enterobacteriaceae. J Clin Microbiol 1988;26:743--6.
  • Simmons BP, Gelfand MS, Haas M, et al. Enterobacter sakazakii infections in neonates associated with intrinsic contamination of a powdered infant formula. Infect Control Hosp Epidemiol 1989;10:398--401.
  • Biering G, Karlsson S, Clark NC, et al. Three cases of neonatal meningitis caused by Enterobacter sakazakii in powdered milk. J Clin Microbiol 1989;27:2054--6.
  • Clark NC, Hill BC, O'Hara CM, Steingromsson O, Cooksey RC. Epidemiologic typing of Enterobacter sakazakii in two neonatal nosocomial outbreaks. Diagn Microbiol Infect Dis 1990;13:467--72.
  • Van Acker J, DeSmet F, Muyldermans G, et al. Outbreak of necrotizing enterocolitis associated with Enterobacter sakazakii in powdered milk formula. J Clin Microbiol 2001;39:293--7.
  • FDA. Recalls and Safety Alerts. Powder Product Recall. Available at http://www.fda.gov/oc/po/firmrecalls/meadjohnson03_02.html.
  • The American Dietetic Association. Preparation of formula for infants: guidelines for healthcare facilities. Chicago, Illinois: The American Dietetic Association, 1991.
  • FDA. Letter to health-care professionals. Available at http://www.cfsan.fda.gov.


www.medicastore.com : Apotik online dan media informasi obat - penyakit

Baca Selengkapnya......